Segalanya Tentang Biasa (2)
Assalamu'alaikum warahmatuLlaahi wabarakatuh , ----------------------------------------------------------------- Annisa menyerah. Ia pergi menjauh dari Fathur yang juga terus menjauh. Terus melangkah tanpa arah yang pasti, entah kemana. Siang itu, kebetulan, aku juga lewat di jalan yang sama dengan jalan yang dilalui Fathur. Dan aku pun berpapasan dengannya. Aku menyapanya ramah. "Hai, Thur, tumben keluar rumah," sahutku dengan senyuman. Namun, seketika itu pula ia membalasnya dengan tatapan tajam dan ia pun berkata dengan nada tinggi, "Dit, lu jangan nyuruh-nyuruh gua ya untuk akhir-akhir ini. Please deh".