Posts

Showing posts from October, 2021

Gagal Lagi

Hari ini harusnya menjadi hari ke-5 dari terakhir kali aku runtuh. Sayangnya, tengah hari tadi, aku kalah. Mungkin bukan kalah, lebih tepatnya menuruti hawa nafsu. Aku runtuh, lagi. Hari ke-0 pada hari ini, artinya baru Jumat yang akan datang aku mencapai hari ke-5 lagi. Terakhir kali, rekor terpanjangku adalah 30 hari. Di hari ke-31, aku gagal. Sejujurnya, selama 30 hari itu aku ada beberapa kali cheating. Tapi, setidaknya tidak sampai akhir, sehingga tidak kuhitung sebagai keruntuhan (sejauh ini hanya satu orang di antara orang-orang yang kupercaya yang saat membaca ini, akan paham konteks sepenuhnya dari tulisan ini). Ah... padahal pagi ini emosiku mulai sangat stabil. Tapi bodohnya tadi aku mengacaukan semuanya :"( Kalaupun aku harus ke psikiater, sepertinya aku tetap benar-benar butuh seseorang yang secara langsung bisa mengingatkanku agar aku tidak runtuh lagi. Dan itulah yang menyebabkan aku berpikir rasanya tidak perlu bagiku untuk konseling lagi, karena aku sudah tahu apa...

Kepada Awan

Hei, sepertinya aku akan rutin menulis di sini. Agak nyampah sih memang, tapi ya sudahlah. Setidaknya ini jadi semacam tempat aman. Jujur, aku rindu. Komunikasi di antara aku dan dia memang semacam berpola, kadang satu-dua hari berjalan, lalu disela jeda seminggu atau kadang lebih. Saat tidak sedang berkomunikasi itulah biasanya kerinduan itu muncul. Halah.. kadang ingin kukesampingkan saja. Berusaha menyibukkan diri dengan interaksi pada-Nya, atau mengerjakan yang lain, tapi dia selalu melintas di kepala. Entahlah, perlukah kusampaikan kepada awan untuk menurunkan hujan deras agar butir-butir rindu itu bisa terlepas? Senang betul rasanya kalau sedang ada yang bisa dibicarakan. Dan sebaliknya, saat komunikasi itu sedang vakum, ya, seperti kosong. Sesuai namanya, vakum, kosong, macam hilang sesuatu yang bisa bikin lebih semangat. Hmm.. pelik. Padahal di tulisan persis sebelum ini, inginnya kusudahi dulu memikirkan ini semua. Tapi memang sulit. Suliiit betul... Ya Allah, mungkin doaku me...

Menepi Sejenak

Aku mungkin memang perlu berhenti dulu untuk saat ini. Menyoal rasa memang sering jadi sesuatu yang rumit. Apalagi untuk orang overmelankolis sepertiku. Walaupun, soal rasa (kamu yang membaca ini harusnya tahu arahnya ke mana), aku bukan orang yang mudah jatuh hati pada seseorang. Tidak. Bahkan sejak awal masuk kuliah aku sempat berpikir tidak akan menemukan perasaan semacam itu, apalagi dengan teman satu fakultas sendiri. Tapi, sekarang berbeda. Entah siapa yang memulai, atau apa yang membuat semua ini ada, perasaan ini terus tumbuh, walau tidak ada yang menyirami. Atau, ia tidak sengaja tersiram, begitu terus berulang-ulang. Mungkin memang ada pemicunya. Bukan, bukan mungkin. Memang ada pemicunya. Tapi aku belum tahu apakah ia disengaja atau tidak. Aku percaya bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang terjadi karena hanya kebetulan saja. Semua sudah Allah tentukan, barang sedetik pun. Entah semua ini akan bermuara ke mana, atau entah ia akan bermuara atau tidak: karena bisa saja per...