Kepada Awan
Hei, sepertinya aku akan rutin menulis di sini. Agak nyampah sih memang, tapi ya sudahlah. Setidaknya ini jadi semacam tempat aman.
Jujur, aku rindu. Komunikasi di antara aku dan dia memang semacam berpola, kadang satu-dua hari berjalan, lalu disela jeda seminggu atau kadang lebih. Saat tidak sedang berkomunikasi itulah biasanya kerinduan itu muncul.
Halah.. kadang ingin kukesampingkan saja. Berusaha menyibukkan diri dengan interaksi pada-Nya, atau mengerjakan yang lain, tapi dia selalu melintas di kepala. Entahlah, perlukah kusampaikan kepada awan untuk menurunkan hujan deras agar butir-butir rindu itu bisa terlepas?
Senang betul rasanya kalau sedang ada yang bisa dibicarakan. Dan sebaliknya, saat komunikasi itu sedang vakum, ya, seperti kosong. Sesuai namanya, vakum, kosong, macam hilang sesuatu yang bisa bikin lebih semangat.
Hmm.. pelik. Padahal di tulisan persis sebelum ini, inginnya kusudahi dulu memikirkan ini semua. Tapi memang sulit. Suliiit betul...
Ya Allah, mungkin doaku memang kurang kencang. Maaf... entah Engkau yang sengaja mengujiku dengan ini, atau ini justru teguran untukku, maafkan aku ya Rabb
Comments
Post a Comment