Menepi Sejenak

Aku mungkin memang perlu berhenti dulu untuk saat ini.

Menyoal rasa memang sering jadi sesuatu yang rumit. Apalagi untuk orang overmelankolis sepertiku. Walaupun, soal rasa (kamu yang membaca ini harusnya tahu arahnya ke mana), aku bukan orang yang mudah jatuh hati pada seseorang. Tidak. Bahkan sejak awal masuk kuliah aku sempat berpikir tidak akan menemukan perasaan semacam itu, apalagi dengan teman satu fakultas sendiri.

Tapi, sekarang berbeda.

Entah siapa yang memulai, atau apa yang membuat semua ini ada, perasaan ini terus tumbuh, walau tidak ada yang menyirami. Atau, ia tidak sengaja tersiram, begitu terus berulang-ulang. Mungkin memang ada pemicunya. Bukan, bukan mungkin. Memang ada pemicunya. Tapi aku belum tahu apakah ia disengaja atau tidak.

Aku percaya bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang terjadi karena hanya kebetulan saja. Semua sudah Allah tentukan, barang sedetik pun. Entah semua ini akan bermuara ke mana, atau entah ia akan bermuara atau tidak: karena bisa saja perasaan ini memang hanya sebatas rasa yang berkecipak sejenak di hati dan kelak akan pergi, atau bisa saja ia mungkin akan reda sesaat, namun ia tetap menetap.

Hah.....

Kamu belum siap, Ki. Mungkin kamu memang perlu "berhenti", menepi sejenak. Tidak perlu dipusingkan lebih jauh, biarkan semua berjalan dulu apa adanya, tanpa ada yang kamu "paksakan", tanpa ada yang perlu diusahakan untuknya. Usahakan dulu untuk dirimu sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

2 Agustus

4 Agustus

Mar 14