Segalanya Tentang Biasa (3)

Di dalam rumah tua itu, Fathur mencari orang yang hendak ditemuinya. Di tangannya masih ia genggam erat-erat uang 2 juta rupiah yang hijau-hijau semua itu. Rumah berarsitektur art deco itu sangat anggun, namun karena sangat tidak terawat, rumah itu menjadi sarang bagi segala macam hewan. Namun tak banyak orang tahu bahwa rumah itu masih berpenghuni.

Dan dia tidak sadar bahwa Adit sedang membuntutinya.

"Dimana sih orang itu?" Fathur celingak-celinguk kebingungan.

Tiba-tiba sekelebatan cahaya menyembur dari hadapan sebuah pintu, yang membuat Fathur dan Adit silau. Adit terbelalak, kaget bukan kepalang. Fathur tergagap, hanya diam terpaku dengan tangan gemetaran. Pintu itu pun perlahan terbuka, menimbulkan bunyi decitan yang teramat memekakkan telinga.

Saat itu Adit sadar bahwa dia harus menunduk. Dia bersembunyi di belakang kotak kardus besar yang saat dia sandarkan tubuhnya padanya, kardus itu tak berkutik. Ada isinya, rupanya. Sejak awal bangunan ini memang ganjil, karena itu Adit berinisiatif membuntuti Fathur untuk memastikannya aman.

"Aaa...!" tiba-tiba sekelebatan lolongan menelusup ke dalam pendengaran Adit. Suara itu dari Fathur. Adit cemas. Perlahan dia mencuri pandang dari belakang kardus besar tempatnya bersembunyi dan dia melihat sesuatu yang mencengangkan.

Uang kertas dua puluh ribuan yang dipegang Fathur beterbangan masuk ke dalam ruangan yang bersinar terang itu, bersama tubuh Fathur. Mata Fathur membelalak. Dia berusaha menggapai apa saja yang dapat mempertahankan dirinya dari tarikan "cahaya" itu. Adit tak kuasa menolongnya. Adit pun tergagap dan takjub sekaligus takut dengan apa yang dia lihat itu.

***

Zetta masih kelelahan. Dia terbaring di ranjangnya yang empuk. Dia membayangkan liburan yang menyenangkan selama dua minggu kedepan. Hari-hari tanpa tugas yang memuakkan. Hari-hari santai yang penuh kebahagiaan. Hari-hari yang masih tidak terduga dan akan memberikan berbagai pengalaman yang mendebarkan.

Saat itu sudah pukul 22.00 waktu Manchester. Gelap telah menyelimuti. Perlahan Zetta memejamkan matanya, bersiap untuk bangun pagi dan menunaikan salat malam.

(bersambung)

Cerita sebelumnya dan sebelumnya lagi

(catatan: ada perubahan sudut pandang mulai lanjutan cerbung ini.)

Comments

Popular posts from this blog

2 Agustus

4 Agustus

Mar 14