Posts

Unsent Letter #2: Pikiran yang (Masih) Berisik

Mba, sulit ya untuk tidak memikirkanmu sama sekali. Chat-mu di grup kita "sedikit membuyarkan" ketenanganku dan membuatku agak berpikir kalau kamu sedang "gabut" alias butuh teman bicara. Hal yg dulu-dulu kita lakukan setiap hari di ruang komunikasi kita sendiri. Memang sih sebelumnya kita cukup sering berisik di grup. Tapi sejak kita dekat lebih jauh, grup mulai sepi, dan komunikasi kita berlanjut setiap harinya di PC Aku tiba-tiba sedih lagi. Kali ini ketika menyadari bahwa kamu memang sudah di titik lebih siap untuk melangkah ke jenjang yang baru dalam hidupmu, ketimbang aku. Apalagi karena kamu mungkin masih ada dalam proses menuju ke sana; aku sengaja tak bertanya apa-apa lagi dari terakhir kali kamu mengabari aku bahwa ada yang mau mengajakmu taaruf, karena aku tak mau menambah pikiranku lagi Tapi ternyata ya tiba-tiba saja teringat lagi. Ah... sakitnya ada ya Aku menangis lagi hari ini. Ya Allah, sedih ya rasanya :") Tapi ya sudah, "dinikmati" ...

Unsent Letter #1: Selamat

Mba, selamat ya sudah melalui setengah perjalanan dalam menyelesaikan tugas akhir atau tesismu. Dengan cukup berat hati, maaf aku tak memberikan ucapan apa pun padamu, bahkan di grup kita. Aku bersyukur di waktu-waktu dahulu aku pernah sedikit membantumu saat menyusun proposal tesismu itu. Sedihnya, kali ini ketika aku mengetahui bahwa kamu sudah sempro saja malah membuatku sedih. Menyadari bahwa aku kini bukanlah orang yang (atau mengusahakan untuk tidak) mempedulikan kamu sejujurnya membuatku merasa sakit. Tapi kupikir biarlah, ini demi kebaikan kita juga yg baru saja memulai untuk mengakhiri komunikasi overintens di antara kita kemarin-kemarin. Aku belum siap melamarmu. Kuliahku saja belum rampung-rampung. Mungkin ini jalan yang lebih baik untuk kita berdua saat ini. Kalau Allah takdirkan kita ketemu lagi untuk menjemput ikatan pernikahan, nanti waktunya akan datang lagi (walau tetap perlu kita yg menjemputnya, terutama aku, entah bagaimana caranya dan mulai kapannya). Tapi kalau me...

4 Agustus

Sudah kubilang kan, berharap pada manusia itu namanya sama saja seperti cari mati. Yang kau dapati sebagian besar hanya kecewa. Mau berapa kali lagi Allah beri rasa sedih ini karena terlampau sering menaruh harapan pada manusia?

2 Agustus

Ziyad.. stop asking about it and you'll be more fine. Overthinkingmu itu kamu yang kendalikan. Dengan tidak bertanya, kamu tidak akan tahu, dan kadang itu jauh lebih baik Allah sudah atur. Banyak-banyak doa saja yang teratur.. Kalau Nis ditakdirkan bersamamu, dia akan menjaga dirinya kok. Sudah, tidak perlu khawatir. Sudah bilang kalau kamu percaya sama Nis kan, Yad? Sudah... tidur yang tenang. Berdoa sama Allah... istighfar.. don't worryyy

Mar 14

Sejak awal aku idupin blog ini lagi, aku memang cuma ngisi dengan tulisan2 "sampah" sementara tulisan2 yg rada benernya ya di instagram, wkwk.. mulai cukup banyak, mungkin belasan org kayanya, yang ngeh blog ini dan satu-dua kali liat2 kemari, hehe, tentu aku nggatau siapa karena datanya cuma ngasih tau kapan visitnya dan dari device apa. Berasumsi pun belum tentu bener, tapi jg belum tentu salah Terakhir aku nulis di sini kayanya kubilang mau move on, ya ga sih? Nyatanya, kayanya susah wkwkwk. Soalnya masih interaksi kan, walau jarang pun, jadi yaa yang namanya mup on sepenuhnya tu almost impossible. Almost ya, jadi bukannya ngga mungkin. Soalnya, makin ke sini justru yang lebih banyak adalah raguku soal bener ngga nya perasaan suka ini (karena dulu kan sempet malah yakin banget gitu, kalo yg kali ini beda dan mungkin bener2 cinta *dih). Entahlah. Tentu ngga bisa sih sekadar menghitung2 dari kekurangan atau kelebihan yang nampak aja, terlalu naif kalo cuma gitu Karena pada a...

Feb 28

Time to move on? I'm not really sure... but I'll try

feb 18

Dah lama ngga nyampah di sini wkwk Kali ini singkat aja.. aku, sebenarnya, lagi2 bingung apakah ini sesuatu yang perlu aku syukuri atau ngga. Kayanya sih iya, perlu disyukuri Aku mulai bisa menerima kalau Bit kayanya emang gaada perasaan apa2 buatku. Ya emang sih, belum tau persisnya. Tapi, setelah aku curhat dengan salah satu temenku, aku mulai yakin kalau apa yang terjadi antara aku dan doi ya cuma sekadar pertemanan biasa aja. Temen deket, maybe, tapi ngga lebih dari itu (maksudnya dari segi perasaan dia buatku) So.. alhamdulillah ki. Dipertahankan ya! Lebih tenang kan sekarang? :)