Agar Terus Mendewasa
Di tengah kemumetan tugas yang tak kunjung usai, aku malah menulis ini. Entah sudah "jatuh hati" dengan kebiasaan menunda yang sangat ngga baik, aku memilih untuk "beristirahat" padahal banyak sekali hal yang harus dipertanggungjawabkan.
Tapi rasanya kok tidak sanggup. Atau belum sanggup...
Kami sudah cukup lama tidak berkomunikasi seperti biasanya. Maksudku, ketika chat mengalir begitu saja, kami seakan bertukar energi positif walau tidak tahu apakah benar adanya, apakah hanya aku yang senyum-senyum sendiri jika ada pesan yang masuk darinya, itu sudah cukup lama. Hampir sebulan, mungkin? Terakhir yang bikin aku tersenyum lebar adalah waktu dia membalas singkat saat kutanya kabarnya yang ke luar kota. Itu pun karena aku memberanikan diri untuk bertanya, setelah curhat ke Dita. "Tanyain apa ngga ya?" apalagi waktu itu aku masih ngurus kondangan Zhofir-Nuni.
Tapi karena saat itu juga sedang mumet dan jujur butuh teman mengobrol (secara spesifik, orangnya adalah doi), akhirnya aku chat. Dag dig dug menunggu balasan, ternyata dibalas. Woaah, senang betul! Setelah itu, hanya satu-dua baris saja percakapan kami bergulir dan berujung pesanku yang tidak dia balas. Memang gapenting sih. Nggak centang biru, seenggaknya. Well, dia mungkin udah ngeh kalo aku gak sreg kalo chat-nya cuman diread aja (walaupun ya mestinya sih udah diread dari notif, ya. Yaelaa zee hal beginian doang, kek "bocil smp-sma" aja wkwk)
Jumat lalu, saat dia sempat butuh bantuan (akhir-akhir ini dia cukup sering butuh bantuan, tapi aku lebih sering ngga bisa bantu karena kepala sudah puyeng juga), aku sedang sempat untuk membantu. Emang simpel sih, cariin template gslide. Dia merespons, tentu saja. Aku ambil kesempatan untuk bersurat padanya, "lagi puyeng ya?", diikuti doa supersingkat.
Balasannya singkat juga, tapi cukup bikin aku tersenyum lega. Sampai sekarang, dia masih cukup mumet sepertinya. Tapi, entah dia membaca ini atau tidak (sepertinya tidak dan mungkin tidak akan pernah karena mungkin dia memang tidak peduli atau memilih tidak peduli), semoga pusingnya sudah mereda.
Akhir-akhir ini, aku cukup sering merasa bahwa aku belum benar-benar mendewasa sepenuhnya. Umur memang sudah kepala 2, tapi kok, rasa-rasanya aku cukup sering bersikap bahkan seperti saat masih SMP dulu. "Downgraded" ðŸ˜... Memang tidak setiap waktu sih. Biasanya kalo lagi "kacau" lagi, nah, itulah momennya semua childish side-ku muncul.
Sebenarnya termasuk saat menulis ini, haha..
Aku perhatikan, di sisi lain dari dirinya, kalau lagi mumet, dia juga menuangkannya dalam kicauan, sama sepertiku. Maksudku, mungkin, di satu sisi, kami sama-sama masih perlu mendewasakan diri.
Menurutku, kematangan emosinya tetap masih lebih baik dariku. Selisih umur kami memang "hanya" sebulan, sih. Dia lebih tua. Dia lebih stabil dan tenang dalam menyikapi sesuatu, pada umumnya. Aku orangnya cukup grasak-grusuk soalnya..
Mungkin kalau sampai mumet banget, barulah dia berkicau. Entah apakah ada maksudnya (perasaan dia bukan tipikal yang suka kode2 macam kau deh, zee), kayaknya sih ya sekadar menumpahkan pikiran aja ke followersnya yang cuma hitungan jari. Dia dah sadar belum ya kalau aku cukup sering memerhatikan kicauannya di sana? Hmm, semoga tidak (dan semoga dia tidak membaca ini) 🥲
Jadi, sepertinya memang masih jauh. Terang benderang, aku masih perlu menuntaskan urusanku dengan diriku sendiri. Dan dengan Allah, tentunya. Maksudnya urusan diri sendiri terhadap Allah, itu sangat perlu dibereskan dulu. Bahkan mungkin salah satu jalannya adalah dengan menyingkirkan sebisa mungkin perasaan terhadap dia, yang masih belum tentu ditentukan untukku.
Dan, semua ini memang harus dilalui, agar aku, dia, dan kamu, siapa pun yang membaca ini, terus menjadi lebih dewasa, tidak hanya secara usia, tapi juga dalam jiwa.
Comments
Post a Comment